Langsung ke konten utama

Lokomotif


LOKOMOTIF DSM 60 & DSM 66



Deskripsi Historis:
Jepang ketika membangun jalur maut di tahun 1943 - 1945 membawa seluruh alat perkeretaapian dari luar Riau diantaranya dari Jawa, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara (Deli). Salah satu dari perlengkapan yang diambil Jepang adalah lokomotif Hanomag seri DSM 60 dan DSM 66 yang keduanya adalah lokomotif yang satu seri. Lokomotif ini diambil oleh Jepang dari perusahaan kereta api swasta dari Sumut yakni DSM (Deli Spoorweg Maatschappij).

Selama bertugas di Pekanbaru, lokomotif ini dipakai untuk mengangkut barang dan orang (pekerja/rōmusha). Di akhir masa Pekanbaru Death Railway yakni tahun 1945 - 1946 kedua lokomotif ini selamat serta berhasil dibawa pulang. Lokomotif ini dibawa kembali ke Deli oleh Tuan Meijer (seorang Insinyur DSM). Lokomotif DSM 60 & DSM 66 berhasil diperbaiki oleh DSM di Dipo Lokomotif Pulu Brayan dan akhirnya kembali beroperasi hingga tahun 1980-an.

Deskripsi Teknis:
Nama : DSM 60 & DSM 66
Tipe : 1-B-1 (2-4-2T)
Lebar Sepur (Gauge) : 1067mm
Berat :
Daya :
Buatan : Hanomag, Jerman
Tahun : 1928 - 1929
Total Milik DSM :
Ditugaskan di Pekanbaru : 2 unit
Selamat : 2 unit
Tersisa di Indonesia :

Sumber:
- Deli Spoorweg Maatschappij (http://searail.malayanrailways.com/PJKA/Deli/DSM.htm)
- Images of Railways Elsewhere - Deli Delights (https://sites.google.com/site/railwayselsewhere/south-east-asia/deli-delights)





LOKOMOTIF SCS 200 (C54)





Deskripsi Historis:
Lokomotif "pelari" Pantura pada dekade 1920-an ini tercatat sebagai salah satu penarik kereta express di Jalur Utara Jawa. Namun sayang pada tahun 1943, Jepang mengambil sebanyak 4 unit lokomotif seri ini dari perusahaan kereta api swasta yang beroperasi pada lintasan Semarang (Poncol) - Cirebon (Prujakan) yakni SCS (Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij).

Bila SCS menggunakan lokomotif ini sebagai sarana angkut barang dan penumpang, maka Jepang menugaskan lokomotif ini di Riau sebagai sarana angkut batu bara dan para pekerja. Padahal lokomotif ini tidak cocok untuk medan selain lintas datar. Entah kenapa Jepang memilih lokomotif ini mungkin karena body-nya yang bongsor yang tentu saja tenaga yang dihasilkan cukup besar.

Di akhir hayatnya empat lokomotif C54 yang bertugas di Riau bernasib tragis. Lokomotif yang selamat hanya satu, itu pun sudah tinggal bangkai yang teronggok dalam kebun karet di Lipat Kain, Kampar, Riau. Namun saudaranya (C54 17) yang ada di Jawa masih ada tersisa satu hingga saat ini yang kini menjadi koleksi Museum Kereta Api Indonesia di Ambarawa.

Deskripsi Teknis:
Nama : SCS 200 (C54)
Tipe : 2-C-0 (4-6-0T)
Lebar Sepur (Gauge) : 1067mm
Berat : 38,6 ton
Daya :
Buatan : Hartmaan, Jerman (13 unit) dan Beyer & Peacock, Inggris (6 unit)
Tahun :
Total Milik SCS : 19 unit
Ditugaskan di Pekanbaru : 4 unit
Selamat : 1 unit (bangkai di Lipat Kain)
Tersisa di Indonesia : 2 unit (Lipat Kain dan pajangan Museum KAI Ambarawa)

Sumber:
- Heritage - Kereta Api Indonesia (https://heritage.kai.id/page/Lokomotif%20C54)
- Images of Railways Elsewhere - Deli Delights (https://sites.google.com/site/railwayselsewhere/south-east-asia/deli-delights)





LOKOMOTIF SS 600 (B51)







Deskripsi Historis:
Lokomotif ini adalah milik perusahaan kereta api negeri yang bernama SS (Staatspoorwegen). SS membeli sebanyak 44 unit dari 3 pabrik yang berbeda. Keseluruhan lokomotif ini didatangkan secara bertahap pada tahun 1900 - 1910. Saat bertugas di Pulau Jawa ia pernah melayani rute utama seperti Madiun - Kertosono, Maos - Kroya - Kutoarjo, dan Surabaya - Pasuruan. Untuk lintas Sumatera Selatan (sebelum Jepang masuk) SS mengoper sebanyak 5 unit B51-nya untuk dioperasionalkan di ZSS (Zuid-Sumatra Staatspoorwegen).

Namun saat Jepang masuk ke Pulau Jawa dan ingin membuat jalur Pekanbaru - Muaro Sijunjung ini, maka satu unit B51 dibawa Jepang ke Pekanbaru. Lokomotif ini digunakan sebagai penarik batu bara dan para pekerja (rōmusha). Naas, di akhir hayatnya lokomotif B51 yang dibawa ke Pekanbaru tidak dapat diselamatkan. Kini dari total 44 unit B51 yang bersisa hanya satu dan disimpan di museum Kereta Api Indonesia di Ambarawa.

Deskripsi Teknis:
Nama : SS 600 (B51)
Tipe : 2-B-0 (4-4-0T)
Lebar Sepur (Gauge) : 1067mm
Berat : 32 ton
Daya : 415 HP (75km/h)
Buatan : Hanomag (Jerman), Hartmann (Jerman), dan Werkspoor (Belanda)
Tahun :
Total Milik SS : 44 unit
Ditugaskan di Pekanbaru : 1 unit
Selamat : 0 unit
Tersisa di Indonesia : 1 unit (pajangan museum KAI Ambarawa)

Sumber:
- Heritage - Kereta Api Indonesia (https://heritage.kai.id/page/Lokomotif%20B51)
- Sepurwagen (https://sepurwagen.wordpress.com/2015/09/20/mengenal-lebih-dekat-lokomotif-ss600/)





LOKOMOTIF SS 1700 (C30)





Deskripsi Historis:
Perusahaan kereta api negeri, SS (Staatspoorwegen) membeli lokomotif besar untuk dapat menjelajah medan perbukitan di Jawa Barat bagian selatan dengan mendatangkan 47 unit lokomotif ini yang dipesan dari 4 pabrik berbeda secara bertahap mulai tahun 1929 - 1930. Lokomotif super ini dipekerjakan sebagai penarik kereta Eendaagsche Expres (express siang) rute Bandung - Yogyakarta - Surabaya yang dimulai pada tanggal 1 November 1929.

Lokomotif ini pernah dioper sebanyak 23 unit ke Sumatera Selatan (ZSS) dan 3 unit ke Sumatera Barat (SSS) untuk memenuhi kebutuhan transportasi di sana. Lokomotif ini cocok digunakan untuk menarik kereta express dan barang.

Saat Jepang masuk ke Pulau Jawa, mereka memindahkan 3 unit lokomotif ini ke Pekanbaru untuk melayani jalur Pekanbaru - Muaro Sijunjung. Di sini ditugaskan sebagai penarik batu bara dan pekerja (rōmusha). Namun sayang, nasib ketiga lokomotif ini sudah tidak dapat diketahui lagi karena keburu dirucat dan dibesituakan oleh warga sekitar.

Informasi tambahan, ternyata Jepang juga membawa 4 lokomotif ini ke Kamboja dan 7 unit dijual ke negara di kawasan Indocina. Mungkin lokomotif ini akan digunakan Jepang sebagai sarana di Jalur Thai - Burma yang sama-sama disebut sebagai Death Railway.

Deskripsi Teknis:
Nama : SS 1700 (C30)
Tipe : 1-C-1 (2-6-2T)
Lebar Sepur (Gauge) :
Berat : 31,6 ton
Daya : 660 HP (75km/h)
Buatan : Hohenzollern, Borsig, Hanomag (Jerman) dan Werkspoor (Belanda)
Tahun :
Total Milik SS :
Ditugaskan di Pekanbaru :
Selamat :
Tersisa di Indonesia : 2 unit (Museum TMII & Lubuk Linggau)

Sumber:
- Heritage - Kereta Api Indonesia (https://heritage.kai.id/page/Lokomotif%20C30)
- Nationaal Archief (Photo)





LOKOMOTIF SS 25 (C33)







Deskripsi Historis:
Pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah jalur kereta api di Sumatera Barat dengan nama SSS (Staatspoorwegen ter Sumatrawestkust) atau bisa disebut ini adalah anak cabang dari SS (Staatspoorwegen) yang bertugas di Sumatera Barat. Jalur kereta api di Sumatera Barat salah satu fokusnya adalah untuk mengangkut batu bara dari Sawahlunto menuju Pelabuhan Emmahaven (sekarang bernama Pelabuhan Teluk Bayur). Maka untuk melayani rute tersebut, SSS mendatangkan 23 lokomotif SS 25 (C33) dari Pabrik Esslingen (Jerman). Lokomotif ini didatangkan dari tahun 1891 - 1904. Kemampuan lokomotif ini mampu menarik gerbong batu bara seberat 600 ton pada lintasan datar seperti di Kayutanam - Lubuk Alung - Padang - Teluk Bayur.

Saat Jepang ingin membangun jalur dari Muaro ke Pekanbaru, maka Jepang juga menggunakan sebagian lokomotif endemik SSS ini. Lokomotif ini digunakan sebagai penarik kereta barang batu bara. Namun buruknya konstruksi jembatan kayu dan jalan rel di rute ini menyebabkan beberapa lokomotif dan gerbong terjebak di hutan belantara Sumatera Barat dan Riau.

Deskripsi Teknis:
Nama : SS 25 (C33)
Tipe : 1-C-0 (2-6-0T)
Lebar Sepur (Gauge) :
Berat : 37 ton
Daya : 390 HP (45 km/h)
Buatan : Esslingen, Jerman
Tahun :
Total Milik SS :
Ditugaskan di Pekanbaru :
Selamat :
Tersisa di Indonesia : 2 original (Museum TMII & Kantor KAI Divre 2 Padang), 1 replika (Monumen Pahlawan Kerja Pekanbaru)

Sumber:
- Heritage - Kereta Api Indonesia (https://heritage.kai.id/page/Lokomotif%20C33)
- Indonesiana (https://www.indonesiana.id/read/139758/lokomotif-uap-esslingen-c3325-staatsspoorwegen-di-ranah-minang)





LOKOMOTIF DSM 30



Deskripsi Historis:
Seri lokomotif langka yang hanya ada di Hindia Belanda kala itu dimiliki oleh sebuah perusahaan kereta api swasta yang ada di Sumatera Utara yakni DSM (Deli Spoorweg Maatschappij). Lokomotif tersebut dibuat di Pabrik Krauss-Maffei (Jerman) pada tahun 1897. Tercatat bahwa lokomotif ini pernah bertugas di perkebunan daerah Lau Buntu, sekitar Kuala Langkat. Pada tahun 1902, lokomotif inimulai bertugas di DSM berarti lokomotif ini bisa dibilang second hand-nya DSM.

Naas, pada saat Jepang menduduki Hindia Belanda dan ingin membangun jalur kereta api dari Pekanbaru - Muaro Sijunjung, lokomotif ini turut diambil dan dibawa ke Pekanbaru. Ketika Jepang kalah, lokomotif ini banyak yang dibiarkan begitu saja termasuk lokomotif mungil ini. Walaupun mungil, lokomotif ini memakai lebar sepur (gauge) 1067mm. Disebut-sebut kalau lokomotif seri ini hanya ada satu dan itu milik DSM.

Deskripsi Teknis:
Nama : DSM 30
Tipe : 0-B-0 (0-4-0T)
Lebar Sepur (Gauge) : 1067mm
Berat :
Daya :
Buatan : Krauss-Maffei, Jerman
Tahun : 1897
Total Milik DSM :
Ditugaskan di Pekanbaru : 1 unit
Selamat : 0 unit
Tersisa di Indonesia :

Sumber:
- Pekanbaru Death Railway (https://www.pekanbarudeathrailway.com/the-locomotives)
- Deli Spoorweg Maatschappij (http://searail.malayanrailways.com/PJKA/Deli/DSM.htm)
- Instagram: @keretadeli; Historia Kereta Api Tanah Deli (https://www.instagram.com/p/B27d3WtJxlG/)

Komentar